Trending

  • Rabu, 29 Juni 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Tebuireng, Islam dan Nahdlatul Ulama (episode 1)

Penulis: Ahmad Richad

TVRINews, Jombang

Berkunjung ke Jombang, Jawa Timur, kita akan menemukan banyak pondok pesantren. Sesuai julukannya sebagai kota santri.

Dari sekian banyak pondok pesantren yang ada di Jombang, Tebuireng merupakan pondok yang paling tersohor. Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy'ari lah, sang pendirinya.

Pondok Pesantren Tebuireng berdiri pada tahun 1899 di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang.

Tebuireng sendiri merupakan nama pedukuhan atau sebuah dusun kecil yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Jombang. Nama pedukuhan inilah yang kemudian dijadikan nama pesantren oleh KH Hasyim Asy'ari.

Pendirian pondok pesantren Tebuireng ini sangat menantang, karena kala itu KH Hasyim Asy'ari memilih tempat yang tidak biasa, yaitu di tengah-tengah masyarakat yang banyak melakukan kemungkaran. Bahkan aksi kejahatan merupakan tontonan keseharian di kala itu.

Dilihat dari sejarahnya, aksi kemungkaran itu muncul pada penghujung abad ke-19, di sekitar wilayah Tebuireng banyak bermunculan pabrik milik asing, terutama pabrik gula. 

Jika dilihat dari sisi ekonomi, keberadaan pabrik-pabrik tersebut menguntungkan karena akan membuka banyak lapangan kerja. Tetapi dari sisi psikologis justru merugikan, lantaran masyarakat belum siap menghadapi industrialisasi.

Masyarakat yang belum terbiasa menerima upah sebagai buruh pabrik itu, akhirnya menggunakan upah yang diterimanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif-hedonis, seperti berjudi dan pesta miras.

Ketergantungan rakyat terhadap pabrik itu berlanjut pada penjualan tanah-tanah rakyat yang memungkinkan hilangnya hak milik atas tanah. Hal ini diperparah dengan gaya hidup masyarakat yang sangat jauh dari nilai-nilai agama.

"Kondisi masyarakat yang demikian itu menimbulkan keprihatinan mendalam pada diri Kyai Haji Hasyim Asy'ari," kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz, kepada TVRINews saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng.

Atas dasar keprihatinan dengan kondisi yang ada, KH Hasyim Asy'ari akhirnya mendirikan pondok pesantren.

Pada 26 Rabiul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899, KH Hasyim mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu berukuran 6x8 meter. 

"Beliau (KH Hasyim Asy'ari) memilih tempat yang memang banyak sekali kemungkaran-kemungkaran kala itu, dan berhadapan langsung dengan kejahatan-kejahatan," tutur Gus Kikin sapaan akrab KH Abdul Hakim Mahfudz.

Kehadiran KH Hasyim Asy'ari dan Pondok Pesantren Tebuireng kala itu tidak langsung mendapat sambutan baik oleh masyarakat setempat. Intimidasi dan fitnah datang silih berganti.

Namun seiring berjalannya waktu Pondok Pesantren Tebuireng yang awal berdirinya hanya memiliki delapan santri, akhirnya berubah menjadi tempat kajian Islam yang mencerahkan. 

Hal tersebut tidak lepas dari keahlian KH Hasyim Asy'ari dalam bidang hadits dan tafsir, sehingga menjadikan daya tarik utama pesantren Tebuireng.

"Keahlian beliau itu didapat karena banyak belajar ke beberapa syekh dan guru di Mekah, salah satunya Syekh Mahfudz  At-Tarmasi dari Tarmasi. Dalam bidang hadits dan tafsir ini Kyai Hasyim juga mendapatkan gelar hadratussyaikh," ucap Gus Kikin.

Yang membuat beliau (KH Hasyim Asy'ari) menjadi hadratussyaikh adalah karena beliau hafal kutubus sittah, yaitu hafal cakupan kitab hadis Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, dan Sunan Ibnu Majah, baik secara matan maupun sanadnya. (Bersambung....).


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.