Trending

  • Kamis, 11 Agustus 2022

Nasional

  • 0 Komentar

WHO Peringatkan Dampak Jangka Panjang Covid-19 pada Kesehatan Mental

WHO Peringatkan Dampak Jangka Panjang Covid-19 pada Kesehatan Mental
WHO Peringatkan Dampak Jangka Panjang Covid-19 pada Kesehatan Mental

Penulis: Aulia Zita

TVRINews, Yunani

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggaris bawahi dampak jangka panjang pandemi pada kesehatan mental. Hal ini disampaikan organisasi tersebut dalam pertemuan di Athena yang dihadiri menteri kesehatan puluhan negara, Kamis (22/7/2021).

"Semua orang terpengaruh dalam satu atau lain cara," kata WHO dalam sebuah pernyataan pada awal pertemuan tersebut.

WHO mengatakan kecemasan seputar penularan virus, dampak psikologis dari karantina dan isolasi diri telah berkontribusi pada krisis kesehatan mental, bersama dengan tekanan sosial lain yang terkait dengan pengangguran, masalah keuangan, dan keterasingan sosial.

"Dampak kesehatan mental dari pandemi ini akan berjangka panjang dan berjangkauan luas," katanya dalam pernyataan yang sama.

Direktur regional WHO untuk Eropa Hans Kluge mengatakan kesehatan mental harus dianggap sebagai "hak asasi manusia yang mendasar", menekankan bagaimana virus itu telah menghancurkan kehidupan.

"Pandemi telah mengguncang dunia, lebih dari empat juta nyawa hilang secara global, mata pencaharian hancur, keluarga dan komunitas terpisah, bisnis bangkrut, dan orang kehilangan kesempatan,” katanya dalam konferensi tersebut.

WHO menyerukan perlunya penguatan layanan kesehatan mental secara umum dan peningkatan akses ke fasilitas kesehatan mental melalui teknologi. Bada ini juga mendesak layanan dukungan psikologis yang lebih baik di sekolah, universitas, tempat kerja dan untuk orang-orang di garis depan perang melawan Covid-19.

Pertemuan tersebut juga menghadirkan seorang wanita Yunani berusia 38 tahun bernama Katerina yang memberi tahu mereka bagaimana dia telah menerima perawatan untuk gangguan kejiwaan sejak 2002 dan telah mengatasi tantangan kesehatannya dengan baik sampai pandemi melanda.

Dia tidak lagi dapat menghadiri kelompok pendukung secara langsung dan tidak dapat melihat ayahnya, memaksanya untuk meningkatkan perawatannya.

"Tekanan isolasi sosial menyebabkan peningkatan kecemasan," katanya.

 

Editor: Dadan Hardian


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.