Trending

  • Senin, 3 Oktober 2022

Internasional

  • 0 Komentar

Pembicaraan Gencatan Senjata Tidak Membuahkan Hasil, Rusia Diisolasi Secara Diplomatik

Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan untuk mengisolasi Rusia setelah Presiden Vladimir Putin tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan invasi ke Ukraina yang sudah dilakukan sejak 24 Februari 2022 lalu.

Invasi besar-besaran tersebut mengakibatkan pertempuran sengit hingga pemboman yang telah menewaskan puluhan orang dan memicu krisis pengungsi. Invasi Rusia ini tampaknya tidak mencapai hasil awal yang menentukan seperti yang diharapkan Putin.

Saat ini pimpinan Rusia sedang menghadapi isolasi diplomatik yang berdampak sistemik sanksi berat, menyebabkan keruntuhan mata uang Rusia Rubel hampir 30 persen sebelum intervensi bank sentral menyelamatkan mata uang dari posisi terendahnya.

Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah memberlakukan sanksi terhadap Bank Sentral Rusia, bisnis utamanya, oligarki dan pejabat, termasuk Putin sendiri, dan melarang beberapa bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT.

Situasi pun semakin buruk setelah pembicaraan gencatan senjata yang diadakan Senin (28/2) kemarin gagal mencapai terobosan dan para perunding belum mengatakan kapan babak baru akan berlangsung.

Sekutu NATO, Turki juga memberikan pukulan lain ke Rusia dengan memperingatkan negara-negara yang bertikai untuk tidak mengirim kapal perang melalui Selat Bosphorus dan Dardanelles yang memisahkan Laut Hitam dari Mediterania.

Sementara, AS telah mengesampingkan pengiriman pasukan untuk memerangi Rusia atau menegakkan zona larangan terbang seperti yang diminta oleh Ukraina, karena khawatir akan eskalasi antara dua kekuatan nuklir utama dunia.

Namun, Amerika Serikat dan sekutunya malah menjanjikan bantuan militer ke Kiev, karena Presiden Volodymyr Zelenskiy memperingatkan bahwa ibu kota itu berada dibawah ancaman terus-menerus.

"Bagi musuh, Kiev adalah target utama. Kami tidak membiarkan mereka merusak pertahanan ibu kota, dan mereka mengirim penyabot. Kami akan menetralisir mereka semua," kata  Zelenskiy yang dilansir dari Reuters, Selasa (1/3/2022).

Zelenskiy mengatakan Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai operasi khusus menargetkan pembangkit listrik termal yang menyediakan listrik ke Kiev. Kelompok hak asasi manusia dan Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat menuduh Rusia menggunakan bom curah dan bom vakum. 

Sementara itu dari Rusia, untuk mendorong ibu kota dari isolasi ini, pemerintah setempat telah mengumpulkan konvoi kendaraan lapis baja, tank dan peralatan militer lainnya yang membentang sekitar 40 mil (64 km).

Rusia mengatakan tindakannya tidak dirancang untuk menduduki wilayah tetapi untuk menghancurkan kemampuan militer tetangga selatannya dan menangkap apa yang dianggapnya sebagai nasionalis berbahaya.

Pertempuran telah berkecamuk di sekitar Pelabuhan Mariupol dan di kota timur Kharkiv, di mana para pejabat Ukraina mengatakan serangan artileri Rusia telah menewaskan puluhan warga sipil, termasuk anak-anak. Tidak mungkin untuk memverifikasi angka-angka itu.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.