
Suka Duka Volunteer ASEAN Para Games Solo 2022: Ingin Kontribusi untuk Negara
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Solo
Sekitar 1.300 orang terpilih mendapat kesempatan untuk menjadi volunteer dalam ajang multievent internasional, ASEAN Para Games Solo 2022.
Mendapat kesempatan langka tentu tidak disia-siakan oleh masyarakat, terutama yang berdomisili Solo. Hal tersebut diungkapkan oleh tiga mahasiswa lokal, yakni Tanti Hanani dari Wonosobo, Safa Qutrilaini asal Tangerang, dan Eta Nethania kelahiran Yogyakarta.
Mengetahui informasi dari sosial media, ketiganya merasa sangat senang bisa ikut berpartisipasi menjadi volunteer, apalagi ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka.
"Pengen berkontribusi untuk negara apalagi event internasional," kata Tanti kepada TVRINews.com di Stadion Manahan, Solo. "Kebetulan ada event di Solo dan domisili Solo jadi ambil kesempatan buat berpartisipasi," ujar Safa menambahkan, Sabtu (6/8).
Setelah mendapatkan pembekalan menjadi volunteer, Tanti ditugaskan untuk input data dan mengawasi pertandingan untuk statistik pertandingan sepak bola cp di Stadion Manahan, Solo.
Bertempat di lokasi yang sama, Safa mengemban tanggung jawab untuk validasi scoring. Sementara, Eta di bagian sponsorship, LO Client Service ditugaskan untuk mendampingi tamu dari sponsor terutama opening dan closing dan memastikan kebutuhan client terpenuhi.
Ketiganya memiliki pandangan tersendiri mengenai pelaksanaan ASEAN Para Games Solo 2022. Mereka menungkapkan bahwa penyelenggaraan ASEAN Para Games ini sangatlah keren, mulai dari panitia, volunteer, hingga para-atlet yang bertanding.
"Acaranya keren banget, sesuai dengan tema striving for equility, semua orang punya kesempatan sama untuk berkontribusi buat negaranya," ujar Tanti.
"Saya melihat ASEAN Para Games ini, semua orang berhak untuk meraih mimpi meskipun kita punya kekurangan, kita bisa untuk meraih itu," ucap Eta.
Mengingat ketiganya baru pertama kali menjadi volunteer tentu tidak mudah untuk mengikuti alur kerja yang dikerahkan dalam event internasional.
Sehingga, diperlukan adaptasi dan penyesuaian dalam waktu yang cukup singkat, bahkan ketiganya merasa belum maksimal mengerahkan kemampuannya. Bagi ketiganya masih diperlukan banyak belajar dan mengambil pengalaman dari acara ini.
"Jadwalnya lumayan padat, cukup menguras tenaga dan masih harus banyak belajar hal baru," ujar Safa.
"Banyak koordinasi dari berbagai pihak, kadang agak kesulitan untuk menyatukan beberapa pikiran," tutur Eta.
Editor: Redaktur TVRINews
