Penulis: Zainal Hakim
TVRINews, Kab. Tanbu
Sebanyak 23 kepala keluarga terpaksa membuat tenda pengungsian ditepi jalan Trans Kalimantan Lilometer 171 Satui Barat, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, karena takut bermukim di rumah masing-masing.
Pasalnya bangunan tempat tinggal mereka terancam ambruk akibat adanya aktivitas pertambangan batubara di sekitar permukiman warga. Parahnya kerusakan bangunan tempat tinggal warga ini membuat penghuninya dihantui keresahan.
Mereka takut setiap saat huniannya tiba-tiba runtuh dan menimpa anggota keluarganya. Sehingga, sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat lain, bahkan diantaranya membuat tenda ditepi jalan. Sisanya tetap berusaha bertahan di rumah yang rusak.
Menurut warga yang menjadi korban aktivitas tambang ini, penurunan tanah menjadi penyebab kerusakan, karena didepan permukiman warga yang hanya berjarak beberapa puluh meter terdapat lokasi tambang batubara dan bekas galian raksasa, saat diguyur hujan deras terjadi penurunan tanah.
Kondisi ini sudah berlangsung sejak 3 bulan lalu, namun kian parah dalam beberapa hari terakhir. Setelah intensitas curah hujan tinggi. Korban mengaku pernah mendapatkan tali asih dari perusahaan untuk perbaikan. Tapi kini mereka sudah tak berani lagi bertahan, sehingga menuntut ganti untung dan siap direlokasi.
Kini, mereka hanya bisa meratapi nasib dan menyuarakan aspirasi dengan aksi simpatik ditepi jalan, harapan ada pihak berwenang memberikan respon.
Selain merusak rumah warga, aktivitas tambang juga merusak jalan nasional. Badan jalan mengalami penurunan hingga setengah meter lebih. Pasalnya struktur tanah amblas ke galian bekas tambang yabg berada persisi ditepi jalan.
Dampaknya mengganggu arus lalu lintas dan menyebabkan macet hingga lima kilometer. Sementara, PT MJAB. Tambang batubara yang paling dekat dengan area permukiman warga saat dikonfirmasi belum bersedia memberikan keterangan.
Editor: Redaktur TVRINews
