
Ketua Matakin Beberkan Makna Filosofi dari Perayaan Imlek
Reporter: Nur Khabibi
TVRINews, Jakarta
Sebentar lagi umat Konghucu merayakan tahun baru Imlek 2572 Kongzili atau tahun baru China yang akan dirayakan pada Jumat (12/1/2021) mendatang.
Ketua umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (matakin) Budi Tanuwibowo menjelaskan makna filosofi dari perayaan Imlek.
Yang pertama, tahun baru Imlek adalah momen untuk pembaharuan diri. Konghucu mengajarkan pada penganutnya, kehidupan itu selalu berubah seperti air yang mengalir tak pernah kembali. Jika kita tidak berubah kita akan dihantam oleh perubahan.
"Jadi ucapan yang paling standar dari imlek adalah selalu berusaha memperbarui diri dan senantiasa menjaganya baru,"kata Budi Santoso Tanuwibowo di acara Dialog Indonesia Bicara di TVRI Senayan, Jakarta, Senin (8/2/2021).
Acara Dialog Indonesia Bicara kali ini membahas “Imlek dengan Budaya Baru" yang dipandu Herdina Suherdi. Selain Ketua Matakin, Budi Santoso Tanuwibowo, hadir Dewan Pakar Indonesia Tionghoa, Azmi Abu Bakar dan Menko PMK Muhadjir Effendy.
Yang kedua, kata Budi, refleksi atas kehadiran Tuhan. Bahwa sebagai manusia dalam perjalanan satu tahun berselang ada saja kekurangan yang masih ada. Apa saja yang harus diperbaiki dan prasajikan ke depan. Kemudian nilai berbakti kepada yang dekat, dari orangtua, para guru, para vijay, Bangsa, Negara dan kemanusiaan. Karena tidak ada satu orang pun di dunia bisa hidup sendiri.
"Kasarnya untuk sombong saja butuh orang lain untuk mendengarkan kesombongan kita," ujar Budi mengumpamakan.
Yang ketiga, menyatu dengan alam karena manusia adalah bagian setitik noktah yang tidak berarti di alam semesta. Jika manusia tidak berbuat seimbang atau harmonis akan menyebabkan gangguan keseimbangan alam akibatnya macam-macam.
"Jadi umat Konghucu diajarkan jangan percaya segala sesuatu itu hukuman dari tuhan. Karena tuhan tidak akan menghukum manusia melebihi batas kemampuannya," tuturnya.
Saat malam sebelum datangnya tahun baru Imlek, umat Konghucu mengundang sanak saudara kumpul dalam satu rumah untuk makan bersama keluarga besar. Karena masih dalam situasi pandemi Covid 19, Budi Tanuwibowo mengimbau kepada warga Konghucu untuk tidak mengundang saudara yang tidak satu rumah makan bersama.
"Dibatasi, makan bareng ya keluarga yang serumah saja, tapi kalau ingin melihat suasana di rumah anak-anak kan ada video call, ditayangkan saja sambil makan melihat suasana rumah lain," tutur Budi.
Editor: Dadan Hardian
Editor: Admin
