
Likuran dan Prebegan Jadi Tradisi Unik Sambut Idul Fitri yang Sarat Makna di Pemalang
Penulis: Eggi Paksha
TVRINEWS, Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang Jawa Tegah, memiliki tradisi unik menjelang Lebaran atau Idul Fitri. Warga bersama para tokoh masyarakat, kebudayaan, menggelar kegiatan dengan berbelanja makanan, pakaian atau membuat serabi. "Ada yang masih menjalankan, tapi ada yang tidak. Kalau yang masih menjalankan, biasanya itu di perkampungannya," kata warga Pemalang, Umar Alim, kepada TVRINews.com.
"Likuran atau selikur itu asal katanya. Itu adalah bahasa Jawa, artinya kira-kira 21. Jadi kegiatan yang dilakukan mendekati Hari Raya setelah melewati 21 hari," kata sosok yang yang bekerja sebagai staf di Terminal Bus Induk Pemalang tersebut.
Sebagai catatan, salah satu desa di Pemalang yang masih menjalani kegiatan tersebut adalah Desa Pengarit, Kecamatan Taman. Mereka kerap membuat serabi Likuran. Hal tersebut berawal dari keinginan para tokoh masyarakat untuk melestarikan tradisi membuat makanan yang disebut serabi likuran.
Pada zaman dulu, pada 10 hari terakhir Ramadan, masyarakat Desa Penggarit selalu menggelar kegiatan yang dinamakan serabi Likuran. Warga membuat serabi, yang kemudian diberi kuah kincau, atau kuah kental yang terbuat dari gula aren ditambah santan kelapa muda yang direbus. Serabi-serabi ini diberikan, atau diantar ke para tetangga dan saudara.
Saling memberi serabi ini, menurut dia merupakan simbol dari jalinan silaturahmi warga. Para pedagang yang mengikuti kegiatan ini, dulunya memang perajin atau pembuat serabi. Diharapkan ini nanti bisa memberikan edukasi kepada para generasi penerus.
Uniknya lagi, transaksi dalam serabi Likuran. Masyarakat membeli serabi menggunakan “uang klithik” berupa koin kayu. Koin ini bisa dibuat sendiri atau sudah dipersiapkan di panitia jika dikelola dalam bentuk kegiatan seperti bazar atau pasar.
Kemudian warga dapat membeli serabi ke pedagang menggunakan uang klithik tersebut. Selanjutnya warga akan mendapat setangkep berisi dua serabi yang biasanya dihargai Rp2 sampai 3 ribu. “Tradisi serabi Likuran sangat bagus, tetapi memang sudah jarang. Ada juga Prebegan yang dilakukan dua hari menjelang Lebaran," tambahnya.
Berbeda dengan Likuran, Prebegan merupakan tradisi membeli kebutuhan Lebaran seperti baju, celana, sarung, bunga untuk ziarah, cangkang ketupat, sayur mayur, dan lainnya. Prebegan berasal dari kata prebeg, yang artinya ramai. Jadi masyarakat akan beramai-ramai ke pasar tradisional, mal, supermarket untuk membeli kebutuhan Lebaran.
Editor: Eggi Paksha
Editor: Admin
