Penulis: Ambika
TVRINews, Jakarta Barat
Mengunjungi Kawasan Kota Tua, Jakarta, kita disuguhi deretan megahnya bangunan berlanggam kolonial, salah satunya Museum Bank Indonesia.
Terletak di Jalan Pintu Besar Utara, Keluharan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Museum Bank Indonesia terlihat masih kokoh berdiri.
Edukator Museum Bank Indonesia, Krisno Winarno mengatakan gedung ini pertama kali dibangun pada tahun 1828 yang kemudian mengalami beberapa kali proses renovasi. Dulu, bangunan ini digunakan sebagai De Javasche Bank kemudian menjadi Kantor Bank Indonesia dan akhirnya dialihfungsikan sebagai Museum dan menjadi bangunan cagar budaya.
Museum ini dibangun untuk mengenalkan peran Bank Indonesia dan uang sebagai alat transaksi ekonomi dalam sejarah panjang bangsa Indonesia kepada masyarakat awam.
Di dalamnya, museum ini memiliki banyak ruang pameran yang dilengkapi dengan beragam alat peraga dan informasi.
Pada bagian awal setelah melewati ruang yang dahulu digunakan sebagai transaksi perbankan, pengunjung bisa menyaksikan ruang pameran yang menceritakan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah, dan juga menampilkan replika kapal Jung Jawa.
“Kapal ini juga sempat berlayar, ada catatan, berlayar ke Madagaskar,” kata Krisno, Minggu (27/3/2022).
Selanjutnya pengunjung akan memasuki ruang pameran yang berisikan informasi sejarah mata uang Indonesia di awal masa kemerdekaan.
"Ambil contoh orang dari Mataram mau ke Jakarta waktu peredaran ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah) ini ya, harus datang ke bank di Mataram menukar uang Mataram nya itu dengan sebuah kupon untuk ditukar nanti di Jakarta, dicairkan dengan uang di Jakarta, entah itu ORIDA Jakarta atau ORIDA Banten," ujar Krisna.
Sementara di berbagai ruangan pameran lainnya, pengunjung bisa melihat informasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari zaman orde lama hingga era reformasi.
Selain ruang pameran, pengunjung juga bisa mendatangi langsung beberapa ruangan bersejarah yang masih terjaga seperti aslinya seperti di zaman penjajahan Belanda. Termasuk ruang pertemuan yang terdapat sebuah wastafel (tempat cuci tangan) yang terlindungi di dalam lemari kaca.
“Untuk menjaga kebersihannya dari tikus atau serangga lainnya sehingga di simpan di lemari. Jadi mirip-mirip kondisi saat ini sih harus sering cuci tangan,” gurau Krisno.
Editor: Redaktur TVRINews
