TVRINews, Gaza
Serangan drone Israel di lingkungan Sabra tewaskan empat orang, sementara seorang anak tewas dalam insiden terpisah di kamp pengungsian.
Intensitas kekerasan di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa setelah militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara dan darat pada Minggu, 12 Juli 2026. Sedikitnya enam warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia 9 tahun, dilaporkan tewas dalam insiden yang terjadi di sejumlah titik di Gaza.
Serangan paling mematikan terjadi di lingkungan Sabra, Kota Gaza, di mana sebuah pesawat tak berawak (drone) milik militer Israel menghantam sebuah bengkel pandai besi. Insiden ini menewaskan empat orang di lokasi kejadian.
Pejabat Rumah Sakit Shifa mengonfirmasi telah menerima jenazah para korban, sementara pihak Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan 14 orang lainnya mengalami luka-luka. Warga setempat menuturkan bahwa serangan di Sabra terjadi hanya berselang satu jam setelah adanya perintah evakuasi dari militer Israel.
*Korban Jiwa Anak-Anak dan Serangan di Khan Younis*
Selain insiden di Sabra, dua korban jiwa lainnya dilaporkan tewas di wilayah yang berbeda. Seorang anak berusia 9 tahun, Tala Abu Matar, tewas setelah terkena tembakan di sebuah kamp pengungsian di Gaza tengah. Sementara satu warga lainnya tewas dalam serangan terpisah yang menyasar sebuah tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan di Sabra menargetkan infrastruktur milik kelompok Hamas.
"Menyerang lokasi produksi senjata Hamas," demikian pernyataan singkat militer Israel.
Namun, terkait tewasnya Tala Abu Matar dan serangan di Khan Younis, militer Israel menyatakan tidak memiliki informasi mengenai insiden tersebut.
*Krisis Kemanusiaan yang Berlarut*
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober lalu, sebanyak 1.098 warga Palestina tewas, di mana 260 di antaranya adalah anak-anak. Secara akumulatif, sejak serangan 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa warga Palestina telah mencapai 73.221 orang.
Badan-badan PBB dan pakar independen menilai data tersebut kredibel, dengan catatan bahwa perempuan dan anak-anak mencakup sekitar separuh dari total korban. Saat ini, sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan di kamp-kamp tenda yang penuh sesak atau di tengah reruntuhan, dengan akses layanan dasar yang sangat terbatas.
Hingga kini, upaya negosiasi antara Israel dan Hamas masih menemui jalan buntu. Perbedaan pandangan mengenai implementasi fase kedua gencatan senjata, termasuk isu perlucutan senjata dan rencana rekonstruksi Gaza, menjadi penghambat utama dalam proses perdamaian yang berkelanjutan.










