TVRINews, Jakarta
Pemerintah berharap museum di Indonesia tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan artefak, melainkan ruang interaktif yang menghidupkan narasi peradaban bangsa.
Di sela-sela kunjungan kerjanya di Mesir, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, berkesempatan meninjau langsung National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo, Mesir.
Museum yang diresmikan pada tahun 2021 dan terkenal lewat perhelatan megah Pharaohs' Golden Parade ini menjadi salah satu pusat rujukan utama yang menampilkan narasi panjang peradaban Mesir dari era kuno, Koptik, Islam, hingga masa modern.
Bagi Indonesia, kunjungan ini memberikan pelajaran penting (benchmark) dalam tata kelola permuseuman nasional.
Fadli Zon menegaskan bahwa museum di tanah air harus bergeser dari paradigma konvensional yang sekadar berfungsi menyimpan dan merawat barang antik menjadi ruang hidup yang menampilkan narasi peradaban bangsa secara komprehensif.
Transformasi ini, lanjutnya, harus mencakup keterhubungan dari hulu ke hilir. Di sektor hulu, pelindungan dan pelestarian warisan budaya diperkuat, sementara di sektor hilir, museum didorong untuk menghadirkan pengalaman budaya interaktif yang bernilai ekonomis.
Upaya modernisasi dan digitalisasi yang saat ini digencarkan oleh Kementerian Kebudayaan diarahkan untuk memperkuat ekosistem tersebut, memadukan edukasi sejarah dengan penciptaan nilai tambah ekonomi.
“Museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi menjadi ruang yang menghidupkan kebudayaan, memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, serta membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya Indonesia,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Rabu, 23 September 2026.
Belajar dari Pengelolaan dan Daya Tarik NMEC
Lebih lanjut, Fadli Zon juga mengapresiasi bagaimana Mesir sukses menyulap museum tidak hanya sekadar tempat konservasi artefak, melainkan sebagai etalase peradaban yang menghidupkan sektor ekonomi budaya secara masif. Tercatat, jumlah kunjungan harian di NMEC mampu mencapai rata-rata 10.000 orang setiap harinya.
“Mesir telah menjadikan museum-museum ini sebagai bagian dari etalase budaya, etalase peradaban mereka, dan bahkan menjadi sumber dari ekonomi budaya,” ujar Menbud Fadli Zon.
Ia menambahkan, tingginya animo pengunjung tersebut turut ditopang oleh integrasi fasilitas pendukung yang matang, mulai dari penjualan cendera mata (merchandise), kafe, hingga layanan publik yang interaktif.
Daya Tarik Koleksi Mumi dan Teknologi Kuno
Dalam kunjungan tersebut, Menbud Fadli Zon, yang didampingi oleh sejumlah pejabat esensial Kementerian Kebudayaan, termasuk Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti serta Staf Ahli Menteri Rachmanda Primayuda menyoroti sejumlah daya tarik utama NMEC.
Selain keberadaan ruang pamer mumi para Firaun dari berbagai dinasti, museum ini juga memamerkan evolusi pengetahuan dan teknologi masa lampau yang telah berkembang sejak ribuan tahun lalu, seperti teknik pembuatan tekstil dan tapestri.
Hal ini membuktikan bahwa sejarah peradaban tidak hanya berhenti pada artefak mati, melainkan merekam dinamika kecerdasan manusia lintas generasi.










