TVRINews - Doha, Qatar
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani meninggal dunia pada usia 74 tahun, meninggalkan warisan transformasi besar bagi Qatar di kancah global.
Kabar duka menyelimuti Qatar. Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, dilaporkan meninggal dunia pada usia 74 tahun. Berita duka ini disampaikan melalui Kantor Berita Qatar yang dikelola pemerintah, meskipun tidak disebutkan secara rinci penyebab wafatnya tokoh yang telah mengubah wajah Qatar tersebut.
"Sheikh Hamad wafat pada pagi hari, 12 Juli," demikian disampaikan Amiri Diwan atau kantor resmi pemerintahan Qatar melalui unggahan di platform X.
Sheikh Hamad dikenal sebagai arsitek di balik transformasi menakjubkan Qatar yang kaya energi, mengubah negara kecil di Teluk Persia tersebut menjadi pemain global yang disegani dalam bidang diplomasi, investasi, dan media dalam waktu kurang dari satu generasi.
Warisan Transformasi dan Diplomasi
Memimpin Qatar selama 18 tahun (1995–2013), Sheikh Hamad membawa visi yang melampaui batas geografis negaranya. Langkah-langkah strategisnya yang ikonik antara lain:
* Media: Mendirikan jaringan berita satelit Al Jazeera, yang merevolusi lanskap media Arab dengan pelaporan yang blak-blakan.
* Investasi: Memperluas jangkauan investasi global, termasuk kepemilikan atas department store Harrods di London.
* Olahraga: Menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, sebuah acara global yang menempatkan Qatar di pusat perhatian dunia.
Meski demikian, kebijakan luar negerinya yang independen kerap menuai kritik dari negara tetangga maupun pihak Barat, terutama karena hubungan dekat Qatar dengan Iran, kelompok Hamas, dan Ikhwanul Muslimin.
Transisi Kekuasaan yang Historis
Sheikh Hamad mencatatkan sejarah unik pada Juni 2013 saat ia secara sukarela menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang kala itu berusia 33 tahun. Langkah ini dipandang sebagai upaya mendahului tuntutan reformasi era Musim Semi Arab dan memberikan tongkat estafet kepada generasi muda.
"Masa depan ada di depan Anda, anak-anak tanah air ini, saat Anda mengantarkan era baru di mana kepemimpinan muda mengibarkan spanduk," kata Sheikh Hamad saat dia mengumumkan pengunduran diri dan transisi yang dibuat dengan hati-hati ke putranya, putra mahkota berpendidikan Inggris Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dikutip Senin, 13 Juli 2026.
Keputusan mundur secara damai ini sangat kontras dengan cara Sheikh Hamad naik takhta, yakni melalui kudeta istana tanpa darah terhadap ayahnya sendiri, Sheikh Khalifa, pada 1995.
Profil dan Latar Belakang
Lahir dan dibesarkan dengan latar belakang pendidikan militer di akademi Inggris, Sandhurst, Sheikh Hamad pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dan komandan angkatan bersenjata Qatar sebelum menjadi Emir. Ia memainkan peran krusial dalam perencanaan strategis cadangan minyak dan gas bumi Qatar yang menjadi fondasi kemakmuran negara tersebut saat ini.
Selama beberapa tahun terakhir sebelum wafat, kondisi kesehatan Sheikh Hamad memang kerap menjadi perhatian publik. Pada 2015, ia sempat menjalani operasi di Swiss setelah mengalami patah kaki saat berlibur.
Dunia mengenang Sheikh Hamad sebagai pemimpin yang berani mengambil risiko dan memposisikan Qatar sebagai persimpangan internasional, meninggalkan warisan yang mendefinisikan posisi geopolitik negara tersebut hingga saat ini.










