TVRINews – Madrid, Spanyol
Tabrakan maut antara dua kereta berkecepatan tinggi di Spanyol tengah memicu duka mendalam dan desakan investigasi menyeluruh terhadap sistem kendali infrastruktur nasional.
Sedikitnya 68 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tabrakan kereta cepat yang terjadi di wilayah Spanyol tengah pada Rabu 28 Oktober 2026 pagi waktu setempat.
Peristiwa nahas ini bermula ketika sebuah rangkaian kereta melaju dari Madrid menuju Seville dan menabrak kereta lain yang sedang berhenti di atas jalur rel yang sama. Hantaman keras tersebut membuat sejumlah gerbong terlempar keluar jalur hingga terjatuh ke jurang di sisi lintasan.
Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente, menjelaskan bahwa insiden bermula dari gangguan sistem komputer, yang kemudian disusul oleh kesalahan manusia dalam proses pengelolaan operasional.
Kereta yang berhenti di jalur tersebut dioperasikan oleh perusahaan swasta Iryo dengan membawa 147 penumpang, sementara kereta yang menabrak dari arah belakang dioperasikan oleh perusahaan kereta api nasional,
Renfe, dengan kapasitas 397 penumpang. Puente menyebutkan bahwa ketika terjadi kendala teknis pada sistem, pusat kendali 24 jam di Madrid seharusnya mengambil alih pengawasan namun memberikan instruksi lanjutan tanpa pembatasan kecepatan yang memadai.
Dampak tabrakan digambarkan oleh para penyintas sebagai hantaman yang luar biasa dahsyat. Salvador Arriza, seorang penumpang berusia 62 tahun di kereta Renfe, menuturkan bahwa kekuatan benturan membuat para penumpang terlempar dari kursi mereka. Sebagian penumpang berupaya memecahkan kaca jendela untuk menyelamatkan diri, sementara yang lainnya terjepit di antara kursi akibat padatnya kabin.
Keterangan serupa disampaikan oleh Tangui Binier, pemuda berusia 22 tahun yang berada di dalam kereta Iryo. Ia mengungkapkan situasi penuh kepanikan ketika barang bawaan beterbangan dan jeritan penumpang memenuhi udara. Di luar gerbong, pemandangan kepulan asap tebal serta kerusakan parah pada badan kereta memperlihatkan skala kehancuran yang amat besar.
Respons cepat langsung dikerahkan oleh pihak berwenang dengan menurunkan puluhan unit ambulans serta helikopter evakuasi untuk melarikan korban luka serius ke fasilitas medis terdekat. Garda Sipil Spanyol menyatakan bahwa proses identifikasi korban jiwa akan memerlukan sampel DNA dari pihak keluarga mengingat kondisi di lapangan yang cukup parah.
Perdana Menteri Pedro Sánchez menyampaikan belasungkawa mendalam saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi kejadian. Pemerintah Spanyol menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas faktor kelalaian di balik musibah ini, menyusul desakan dari berbagai pihak termasuk pemimpin oposisi Alberto Núñez Feijóo dan serikat pekerja CSIF yang menuntut transparansi penuh atas keandalan infrastruktur perkeretaapian nasional. Sebagai bentuk penghormatan bagi para korban, seluruh agenda kampanye pemilu parlemen yang dijadwalkan bulan depan resmi dibatalkan.










