TVRINews, Wakatobi
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan pemerintah menghadirkan perubahan signifikan bagi SMP Swasta Maritim Mola di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sekolah yang berada di kawasan permukiman Suku Bajo itu kini memiliki fasilitas belajar yang lebih layak setelah sebelumnya mengalami berbagai kerusakan yang mengganggu proses pembelajaran.
SMP Swasta Maritim Mola berdiri di kawasan pesisir yang menjadi permukiman masyarakat Suku Bajo. Sebelum direvitalisasi, kondisi bangunan sekolah dinilai sudah tidak layak digunakan. Atap yang bocor, lantai yang rapuh, serta struktur kayu yang mulai lapuk membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan rasa khawatir.
Kepala SMP Swasta Maritim Mola, Narto, mengatakan kerusakan bangunan tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru.
"Kondisi sekolah kami sebelumnya sudah tidak layak digunakan. Atap mengalami kerusakan, lantai sudah rapuh sehingga siswa maupun guru tidak merasa nyaman saat proses belajar mengajar. Kami khawatir kondisi tersebut membahayakan anak-anak," ujar Narto dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia menjelaskan, lokasi sekolah yang berada di atas kawasan perairan membuat konstruksi bangunan memiliki tantangan tersendiri. Meski demikian, sekolah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.
Menurut Narto, banyak siswa yang setelah pulang sekolah membantu orang tua melaut atau memancing. Karena itu, proses pendidikan harus mampu berjalan seiring dengan karakter dan budaya kemaritiman masyarakat Suku Bajo.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Swasta Maritim Mola memperoleh anggaran sekitar Rp2,96 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun empat ruang kelas baru, menambah ruang perpustakaan, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang administrasi, toilet, serta merehabilitasi laboratorium IPA.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, mengatakan revitalisasi merupakan komitmen pemerintah menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, termasuk bagi sekolah-sekolah di wilayah pesisir dan kepulauan.
Menurutnya, bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan sekadar bangunan baru, tetapi juga ruang untuk membangun harapan sekaligus menjaga identitas kemaritiman mereka.
Narto mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di daerah pesisir. Ia mengaku seluruh warga sekolah kini dapat merasakan manfaat nyata dari program revitalisasi tersebut.
"Alhamdulillah, kami di SMP Swasta Maritim Mola benar-benar merasakan manfaat dari program revitalisasi ini,"ucapnya.
Perubahan itu juga dirasakan guru Pendidikan Agama Islam, Hangki. Ia mengungkapkan, sebelum direnovasi, beberapa ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga pihak sekolah harus membagi satu ruangan menjadi dua ruang belajar.
Selain itu, atap yang bocor, lantai berlubang, dinding retak, minimnya pencahayaan, dan sirkulasi udara yang kurang baik membuat proses pembelajaran tidak berjalan optimal.
Kini, dengan ruang kelas yang lebih representatif, serta tersedianya laboratorium dan perpustakaan, para guru memiliki semangat baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Dengan revitalisasi ini kami merasakan perubahan yang besar. Sarana dan prasarana yang lebih baik membuat kami lebih bersemangat menghadirkan pembelajaran yang aman, nyaman, dan bermutu,"ungkap Hangki.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan para siswa. Siswi kelas IX, Nining Wardani, mengaku sebelumnya merasa khawatir saat belajar karena kondisi bangunan yang rusak.
"Dulu banyak lubang di lantai dan kayunya sudah mulai rapuh. Kami sering merasa takut saat belajar,"kata Nining.
Kini, menurut Nining, suasana sekolah jauh lebih nyaman sehingga membuat siswa lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar.
"Sekarang sekolah lebih nyaman dan kami sudah tidak takut lagi. Saya berharap pendidikan di kampung kami semakin maju,"tambahnya.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025, sebanyak 348 sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara telah mendapatkan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Jumlah tersebut terdiri atas 29 PAUD, 136 SD, 94 SMP, dan 89 SMA. Sementara di Kabupaten Wakatobi, program ini telah menjangkau 13 sekolah, meliputi tujuh SD, tiga SMP, dan tiga SMA.










