TVRINews – Jakarta
Anggaran negara dioptimalkan untuk memperluas akses layanan dasar, mendongkrak produktivitas, serta menjaga kesehatan fiskal secara berkelanjutan.
Memasuki tahun kedua masa kepemimpinan nasional, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus dioptimalkan sebagai instrumen vital dalam mengakselerasi agenda pembangunan strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Alokasi fiskal difokuskan tidak hanya untuk menjaga resiliensi makroekonomi di tengah ketidakpastian global, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia secara inklusif.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam forum refleksi bertajuk “Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita” di Jakarta, Kamis 8 Oktober 2026, memaparkan bahwa efektivitas belanja negara tercermin langsung pada perluasan cakupan program prioritas nasional.
Hingga Agustus 2026, program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau 56,99 juta penerima manfaat. Selain itu, inisiatif sektor kesehatan mencatat pencapaian signifikan melalui layanan Cek Kesehatan Gratis yang merangkul 99,1 juta penduduk hingga September 2026, disertai rehabilitasi fasilitas kesehatan daerah.
“APBN hadir untuk memastikan prioritas pembangunan pemerintah dapat berjalan dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Kita tidak hanya berbicara mengenai angka, tetapi bagaimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara dapat memperkuat kualitas manusia, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Suahasil.
Di tengah dinamika ekonomi internasional, perekonomian domestik konsisten bertumbuh di kisaran lima persen. Pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap aktivitas ekonomi ilegal guna mengamankan penerimaan negara sekaligus menciptakan iklim usaha yang kompetitif.
Proyeksi Fiskal 2027
Melangkah ke tahun ketiga, arah kebijakan fiskal diproyeksikan bertransformasi menjadi katalis ekspansi ekonomi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 6 persen pada 2027, meningkat dari target tahun sebelumnya sebesar 5,4 persen.
“Ke depan, APBN harus semakin optimal. Kita ingin APBN tetap sehat dan kredibel, tetapi pada saat yang sama mampu memberikan dorongan yang cukup kuat terhadap pertumbuhan. Jadi, disiplin fiskal dan pertumbuhan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama,” tegas Menkeu.
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menetapkan volume belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun dengan pendapatan negara di angka Rp3.426,0 triliun, serta rasio defisit terjaga pada level 2,40 persen terhadap PDB.
Penguatan kapasitas produksi nasional ini turut disokong melalui kolaborasi strategis bersama sektor swasta dan badan pengelola investasi untuk menggenjot arus penanaman modal.
“Disiplin fiskal dan pertumbuhan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama agar APBN tetap kredibel sekaligus memberikan dorongan kuat bagi perekonomian,” pungkas Suahasil menutup pemaparannya.









