TVRINews – Konawe, Sulawesi Tenggara
Limbah Sagu Disulap Jadi Bahan Pelapis Tomat di Konawe
Kosabangsa 2026 menghadirkan terobosan baru bagi masyarakat Desa Tetemotaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, melalui pemanfaatan limbah cair pengolahan sagu menjadi produk bernilai ekonomis.
Melalui inisiatif bertajuk BIOSMART (Bioindustri Sagu untuk Masyarakat Tangguh), perguruan tinggi setempat memperkenalkan teknologi pengolahan limbah cair sagu menjadi Nata de Sago (NDS).Selanjutnya, produk ini dikembangkan sebagai bahan pelapis pangan (edible coating) guna memperpanjang masa simpan komoditas produk hortikultura, misalnya tomat, timun, dan lainnya.
Proyek kolaboratif ini mempertemukan ISTEK (institut Sains Teknologi dan Kesehatan) ‘Aisyiyah Kendari sebagai pelaksana program dengan Universitas Halu Oleo sebagai tim pendamping sekaligus pemilik paten dari teknologi NDS dan edible coating. Kegiatan tersebut melibatkan dua kelompok masyarakat mitra, yakni Kelompok Pengolah Sagu Medai dan Kelompok Tani Hortikultura Kateni.
"Inovasi ini tidak hanya berfokus pada pengujian teknologi laboratorium, tetapi juga dirancang untuk mengintegrasikan rantai pasok antarkelompok masyarakat di tingkat desa," jelas Venia Oktafiani
Dalam praktiknya, limbah cair pencucian sagu diolah oleh Kelompok Medai melalui proses fermentasi menjadi NDS. Produk olahan tersebut kemudian disalurkan kepada Kelompok Tani Kateni untuk diaplikasikan pada permukaan tomat. Pendekatan ini sekaligus memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular, di mana sisa pengolahan yang sebelumnya terbuang kini menjadi masukan produktif.
Kendati demikian, efektivitas perpanjangan umur simpan masih dalam tahap evaluasi lanjutan. Pengamatan hingga hari ketujuh menunjukkan bahwa tomat dengan maupun tanpa pelapis masih berada dalam kategori layak jual, sementara perbedaan susut bobot belum menunjukkan angka yang signifikan.
Selain pengenalan teknologi, program ini juga memperkuat aspek manajerial melalui penyediaan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi, perancangan identitas dan kemasan, serta perhitungan harga pokok produksi. Seluruh perangkat tersebut disiapkan agar kelompok mitra dapat mengelola usaha secara mandiri dan profesional.
Program BIOSMART memperoleh dukungan pendanaan resmi pada tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Tim pelaksana ISTEK ‘Aisyiyah Kendari yang terdiri atas Venia Oktafiani, Andika Mayansara, dan Syaiful Bachri Mustamin, serta tim Pendamping Nur Arfa Yanti, Wahyuni, dan La Ode Ahmad, berharap pendampingan ini mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi perekonomian lokal di Konawe.










