
Manajer Arema Malang FC Ali Rifki memberikan update terbaru terkait kondisi para pemain dan ofisial tim berjuluk Singo Edan pasca Tragedi Kanjuruhan yang terjadi seusai pertandingan melawan Persebaya
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Manajer Arema Malang FC Ali Rifki memberikan update terbaru terkait kondisi para pemain dan ofisial tim berjuluk Singo Edan pasca Tragedi Kanjuruhan yang terjadi seusai pertandingan melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) lalu.
Menurutnya, beberapa pemain masih syok akan kejadian yang menewaskan 125 orang tersebut. Diantara mereka juga dikabarkan keliling mengunjungi keluarga korban yang terdampak atas insiden ini.
"Dua hari ini, beberapa pemain saya hubungi tadi juga saya sempat video call. Saya minta laporan kondisi fisik dan mental untuk kedepan membantu, bila mereka kesusahan mental atau fisik. Beberapa mereka masih syok dan juga beberapa (pemain) keliling ke keluarga korban," kata Ali seusai mengikuti mengikuti rapat evaluasi prosedur dan pengamanan di Gedung Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis (6/10).
Dari kejadian ini, ia berharap ada titik terang, karena jumlah korban nyawa yang tidak sedikit. Bagi sang manajer, kejadian ini bukanlah soal kerusuhan supporter, ia menekankan Aremania tidak dalam posisi bentrok.
"Jangan ada lagi kejadian seperti ini dan yang mana saya kira ini bukan kerusuhan suporter. Saya tekankan lagi Aremania tidak dalam keadaan bentrokan, saya rasa kedepan semakin terjalin persaudaraan dan kedamaian di hati supporter," ujar Ali.
Sebelumnya, Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana mengungkapkan situasi yang serupa terhadap pemain dan ofisial. Menurut pria yang dikenal dengan panggilan Juragan99 ini, pemain dan pelatih tertahan di ruang ganti akibat dari kejadian itu.
"Saya sudah komunikasi dengan pemain dan pelatih pastinya syok. Kemarin, ruang ganti pemain jadi tempat evakuasi jenazah. Di sana ada yang meninggal, pemain syok ini kejadian pertama mereka, tapi kita semua di sini saling bergandengan tangan," ucap Gilang, Senin (3/10) lalu.
Begitu juga dengan kesaksian penyerang Arema FC Abel Camara menyatakan kejadian mengerikan saat berada di ruang ganti ketika tragedi berlangsung. Ia melihat sendiri orang-orang berusaha menyelamatkan diri dari gas air mata yang ditembakan oleh pihak keamanan.
"Mereka mulai menaiki pagar, kami lantas menuju ruang ganti. Dari situ kami mulai mendengar tembakan, dorongan. Ada orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Ada tujuh atau delapan orang yang meninggal di ruang ganti," tutur Camara.
Editor: Redaktur TVRINews
