
Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Malang
Tragedi Kanjuruhan meninggalkan kisah yang memilukan bagi Arema Malang FC. Pertandingan bertajuk "Derby Jatim" ini berakhir ricuh dan menewaskan 131 orang (data terakhir Dinkes).
Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana mengungkapkan kondisi para pemain dan pelatih Tim Singo Edan hingga saat ini madih syok. Menurut pria yang dikenal dengan panggilan Juragan99 ini, pemain dan pelatih tertahan di ruang ganti akibat dari kejadian itu.
"Saya sudah komunikasi dengan pemain dan pelatih pastinya syok. Kemarin, ruang ganti pemain jadi tempat evakuasi jenazah. Di sana ada yang meninggal, pemain syok ini kejadian pertama mereka, tapi kita semua di sini saling bergandengan tangan," kata Gilang dalam konferensi pers yang ditayangkan secara virtual di Malang, Senin (3/10/2022).
Baca Juga: DPR RI Minta Investigasi Total Tragedi Kanjuruhan Malang
Kerusuhan ini terjadi usai kekalahan yang diderita oleh Arema FC atas rival sekotanya tersebut. Ribuan suporter memutuskan turun ke lapangan sebagai bentuk protes. Puncaknya, terjadi saat polisi menembakan gas air mata ke arah tribun, setidaknya sampai Minggu (2/10) pukul 01.00 WIB dinihari.
Gilang menegaskan bahwa pihaknya siap untuk terbuka dan kooperatif, membantu investigasi yang dilakukan oleh pemerintah melalui Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin langsung oleh Menko Polhukam Mahfud MD.
"Yang pasti dari manajemen sangat kooperatif, sangat siap mendukung atas investigasi kejadian ini," ujar Gilang.
Akibat kejadian tersebut, 131 orang meninggal dunia, 31 luka berat, 253 luka ringan dan sedang. Data ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak berdasarkan data dinas kesehatan yang bersumber dari 25 rumah sakit di daerah Malang.
Sejauh ini, Arema FC juga mendapat hukuman, yakni dilarang menjadi tuan rumah dan berlaga di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Setidaknya, sampai Liga 1 musim 2022/2023 berakhir.
Sebelumnya, penyerang Arema FC Abel Camara menyatakan kejadian mengerikan saat berada di ruang ganti ketika tragedi berlangsung. Ia melihat sendiri orang-orang berusaha menyelamatkan diri dari gas air mata yang ditembakan oleh pihak keamanan.
"Mereka mulai menaiki pagar, kami lantas menuju ruang ganti. Dari situ kami mulai mendengar tembakan, dorongan. Ada orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Ada tujuh atau delapan orang yang meninggal di ruang ganti," tutur Camara.
Editor: Redaktur TVRINews
