
Damianus Nadu pejuang lingkungan dari kawasan hutan adat Pikul- Pangajid, Kabupaten Bengkayang
Penulis: Darius Tarigan
TVRINews, Bengkayang
Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka baik individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, serta mengelola lingkungan hidup dan kehutanan.
Adalah Damianus Nadu, pria berusia 60 tahun warga desa Sahan merupakan salah satu salah penjuang lingkungan dari kawasan hutan adat Pikul- Pangajid, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat kembali mendapatkan penghargaan Kalpataru dalam kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di Jakarta, Jakarta (13/10/2021).
Nadu mengatakan, dalam mempertahankan dan menjaga hutan adat di desanya, ia tidak sendirian. Ia bersama warga desa lainnya kompak mempertahankan hutan adat Gunung Pikul Pengajid, desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang.
“Kami berusaha mempertahankan hutan adat yang luasnya hanya 100 hektare. Sementara di sekelilinginya sudah berubah alihfungsi lahan menjadi perkebunan. Upaya tersebut bukan bertujuan mendapatkan penghargaan, melainkan tanggung jawab kami pada leluhur serta akan diwariskan kepada anak cucu kami ke depannya,” ungkap Nadu.
Penyeleksian untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru cukup ketat. Mulai dari tingkat Kabupaten, Provinsi dan Tingkat Nasional. Tim juri dalam melakukan penilaian yang dilakukan mulai dari seleksi admistrasi, dan verifikasi lapangan. Pihak juri juga terdiri dari kalangan profesional, akademisi, pemerintah, akademisi dan jurnalis.
Etty Septia Sari mewakili Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar saat mendampingi Damianus Nadu menerima penghargaan di Jakarta mengatakan sangat bangga dengan kepedulian masyarakat Kalbar dalam menjaga lingkungan.
“Kita sebagai orang Kalbar patut bangga atas penghargaan Kalpataru yang didapat oleh Pak Damianus Nadu. Masih ada orang peduli dan konsisten menjaga hutannya dari kerusakan. Semoga penghargaan tersebut menjadi inspirasi bagi warga Kalbar lainnya,” kata Etty Septia.
Damianus Nadu merupakan sosok penting di balik keberadaan hutan pikul di Desa Sahan. Ia sebagai tabib hutan pikul. Dirinya merintis kegiatan penanaman dengan jenis belian, tengkawang, bengkirai, mahoni, keladan dan lainnya bersama masyarakat adat di lahan kritis bekas eksploitasi perusahaan kayu dan pembalak liar dimulai sejak tahun 1996. Kegiatan yang dilakukannya berhasil menjaga kelestarian hutan adat pikul.
Hutan adat yang selalu dijaga warga Desa Sahan itu banyak pohon tengkawang. Tanaman yang kini langka ini merupakan jenis unggul. Buah dari tengkawang berhasil mereka produksi menjadi minyak dan mentega yang berguna sebagai bahan baku kosmetik.
“Dalam kesempatan ini, saya mengundang Bapak Dirjen PSKL untuk datang ke desa kami, sekaligus meresmikan pabrik pengolahan tengkawang,” pinta Nadu.
Ia berharap, nantinya Desa Sahan dan Kabupaten Bengkayang dapat lebih dikenal tingkat nasional dan manca negara melalui komoditi tengkawang yang sudah dirintis kelompoknya. Pihaknya juga meminta dukungan dan perhatian semua pihak terutama pemerintah agar dapat terus menjaga lingkungan untuk kepentingan bersama.
Editor: Desi Krida
