
Tradisi Nyaagang yang biasanya dilakukan tepat pukul 12 siang memiliki makna mengantar para leluhur untuk mantuk atau kembali ke nirwana.
Penulis: Dede Setyadhi
TVRINews, Klungkung
Perayaan Galungan dan Kuningan di Bali, menyimpan beragam tradisi unik. Salah satunya tradisi Nyaagang atau Ngeluarang yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Klungkung setiap perayaan Kuningan.
Tradisi Nyaagang yang biasanya dilakukan tepat pukul 12 siang memiliki makna mengantar para leluhur untuk mantuk atau kembali ke nirwana.
Tradisi dilaksanakan di depan pintu masuk rumah masing-masing. Warga Klungkung Agung Oka dan Husni yang ditemui saat melaksanakan tradisi ini mengatakan Nyaagang merupakan rangkaian terakhir dalam perayaan Galungan dan Kuningan.
Rangkaian yang dimaksud meliputi Penyekeban, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Menurut kepercayaan, enam bulan lagi tepatnya saat hari raya Galungan dan Kuningan berikutnya, leluhur akan datang kembali untuk membawa rejeki bagi keluarganya.
“Ini rangkaian upacara terakhir saat Kuningan. Nanti enam bulan lagi ada lagi tradisinya”, ujar Husni.
Salah seorang pembuat sarana upacara Cu Kadek mengatakan tradisi ini sudah dilaksanakan turun temurun. Ada satu sarana upacara yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu banten saagan yang terdiri dari sesajen matah lebeng atau mentah dan matang seperti jajanan kering, jagung, ketela, buah nanas dan buah utu, serta juga daging.
Banten ini sebagai simbol bekal bagi para leluhur dalam perjalanan kembali ke alamnya.
“Waktu Galungan kami percaya leluhur datang. Sekarang hari raya Kuningan leluhur pulang ke surga. Kita buat banten untuk bekal leluhur kembali ke surga. Nanti pulang bawa rejeki untuk keluarganya”, ujar Kadek.
Salah satu unsur yang tidak boleh terlewatkan dalam banten saagan ini adalah batang tebu sebagai sarana untuk memikul bekal dan pada Galungan dan Kuningan berikutnya para leluhur dipercaya akan datang kembali dengan memikul rejeki untuk keluarganya dengan menggunakan batang tebu tersebut.
Editor: Desi Krida
