Penulis: Ahmad Richad
TVRINews, Yogyakarta
106 tahun berkiprah, Muhammadiyah telah banyak memberi kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Terutama pada bidang pembaruan Islam, pendidikan, dan kesehatan.
Jauh sebelum Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, dahulu masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam sangat keterbelakangan, salah satunya pola berfikir.
"Jadi dulu KH Ahmad Dahlan berfikir bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil 'alamin, yaitu membawa kemaslahatan untuk umat. Tapi, kenapa dia justru melihat masyarakat muslim di lingkungannya pada waktu itu terbelakang, bodoh, miskin dan terjajah. KH Ahmad Dahlan berfikir bahwa ini pasti ada sesuatu yang kurang pas," kata Budi Setiawan, cucu KH Ahmad Dahlan kepada TVRINews ketika berkunjung ke kediamannya di Kampung Kauman, Yogyakarta.
Bergerak dari keresahan itu, kemudian Muhammad Darwis nama kecilnya Kyai Haji Ahmad Dahlan membentuk organisasi kemasyarakatan umat bernama Muhammadiyah.
"KH Ahmad Dahlan berfikir bahwa cara paling efektif dan cepat untuk melakukan perubahan kala itu, hanya bisa dilakukan jika melalui organisasi masyarakat," lanjut Budi Setiawan yang kini menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center.
Maka pada awal berdirinya 18 November Tahun 1912, organisasi Muhammadiyah khusus dibentuk untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di Indonesia kala itu.
"Demi mempercepat tercapainya cita-cita mulia tersebut, KH Ahmad Dahlan melihat bahwa pendidikan dan kesehatan adalah salah satu hal yang paling utama untuk segera dibenahi. Karena jika sudah benar, maka masyarakat akan langsung merasakan manfaatnya," kata Budi.
Pembaruan yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan kala itu mengalami banyak rintangan. Namun perlahan-lahan masyarakat mulai bisa menerimanya, sehingga pengikut KH Ahmad Dahlan semakin bertambah banyak.
Seiring dengan berkembangnya zaman, pengikut Muhammadiyah dari hari ke hari semakin bertambah, dari situlah mulai ada godaan agar Muhammadiyah menjadi partai politik.
Namun sejak awal KH Ahmad Dahlan sudah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, melainkan bersifat sosial dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan kesehatan.
"Godaan untuk menjadi organisasi politik itu selalu datang, bahkan dulu pada awal abad ke 20 itu, zaman pergerakan nasional. Seorang tokoh nasional, KH Agus Salim datang ke KH Ahmad Dahlan dalam rapat terbatas, beliau menjelaskan pentingnya pergerakan nasional bersatu membentuk partai politik dengan tujuan bisa merdeka yang akan memerdekakan masyarakatnya," tutur Budi Setiawan.
Namun permintaan KH Agus Salim itu, ditanggapi oleh KH Ahmad Dahlan dengan memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab sebelum menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi politik.
"Kala itu KH Ahmad Dahlan memberikan pertanyaan pertama, apakah yang kamu ketahui dengan Islam? Yang kedua, apakah kamu berani beragama Islam dengan seutuhnya? Tidak ada murid-murid tarikad KH Ahmad Dahlan yang menjawabnya," kata Budi saat menuturkan kisah sang kakek KH Ahmad Dahlan.
Seiring berjalannya waktu, meskipun bergerak pada bidang dakwah, pendidikan dan kesehatan, namun beberapa anggota Muhammadiyah justru menjadi tokoh politik besar di Tanah Air ini.
Muhammadiyah telah melahirkan banyak tokoh-tokoh pergerakan, salah satunya seperti Jenderal Sudirman, Abdul Kahar Mudzakkir seorang panitia sembilan pendiri negara ini, Ki Bagus Hadikusumo juga salah satu dari perumus Pancasila.
"Ini menunjukkan bahwa dari Muhammadiyah akan lahir tokoh-tokoh yang menggerakkan. Sementara Muhammadiyah sendiri tetap sebagai organisasi kemasyarakatan. Jadi kalau Muhammadiyah dalam tanda kutip saya katakan sebagai partai politik. Kan partai politik itu tujuannya kekuasaan, maka itu akan menyempitkan gerakan Muhammadiyah sendiri," Budi mengungkap alasan keengganan Muhammadiyah menjadi partai politik.
Namun Budi menjelaskan jika ada anggota Muhammadiyah yang ingin terjun ke partai politik, maka hal itu dipersilakan dengan syarat harus menanggalkan baju Muhammadiyah.
"Banyak contoh ya, seperti ketika pak Ki Bagus Hadikusumo salah satu tokoh Muhammadiyah menjadi ketua Partai Muslimin Indonesia atau Parmusi, beliau lepas kedudukannya dari ketua PP Muhammadiyah saat itu," cerita Budi.
Demikian juga ketika zaman reformasi 1998, saat Amin Rais mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN), maka dia juga melepaskan diri dari Muhammadiyah.
"Sehingga Allhamdulilah sampai sekarang Muhammadiyah tetap dalam koridor sebagai organisasi kemasyarakatan, dakwah, amar ma'ruf nahi mungkar, ada kegiatan pendidikan, dan ada juga kegiatan sosial kesehatan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tutup Budi mengisahkan perjalanan Muhammadiyah. (selesai)
Editor: Redaktur TVRINews
