Penulis: Basri A
TVRINews, Nusa Dua Bali
Pemerintah Indonesia mengagendakan penanaman bakau atau mangrove oleh pemimpin negara peserta KTT G20 guna menekankan pentingnya peran mangrove. Hal ini juga merupakan bagian dari tema yang dipilih Presiden Joko Widodo dalam pelaksanaan KTT terutama terkait penanganan krisis iklim.
Baca Juga: KTT G20, Menko Luhut: Ayo Tunjukkan Kita Bukan Negara Ecek-Ecek!
"Ini adalah concern kita terhadap lingkungan, terhadap penghutanan kembali, baik mangrove maupun tropical rainforest. Sehingga para pemimpin yang diundang bisa melihat langsung," kata Jokowi, di Nusa Dua, Bali, Selasa, (8/11/2022).
Sebagai informasi, total hutan mangrove Tahura Ngurah Rai memiliki luas 1.373,5 hektare, terbentang di dua daerah yakni Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Tahura ini memiliki 33 jenis mangrove, dan terbanyak jenis perapat atau pidada putih yang dalam bahasa Bali disebut prapat sehingga masyarakat lokal juga menyebut lokasi ini sebagai Tahura Prapat.
Di lokasi, panitia sudah menyiapkan bangunan kayu berbentuk elips tempat para pemimpin G20 berdiri dan menanam mangrove. Serangkai mangrove Rhizophora apiculata membentuk tulisan “G20” di tengahnya. Panitia menyediakan puluhan lobang tanam yang akan dimasukkan bibit mangrove Rhizophora mucronata oleh para tamu, termasuk Presiden Jokowi.
Merujuk data Badan Pusat Statistik per Desember 2021, luas ekosistem mangrove atau bakau di Indonesia mencapai 3,63 juta hektare (Ha) atau 20,37 persen dari total dunia. Papua menjadi pulau dengan ekosistem mangrove terluas mencapai 1,63 juta Ha, disusul Sumatera 892,835 Ha, Kalimantan 630.913 Ha. Adapun Bali menjadi pulau dengan ekosistem mangrove terkecil yakni seluas 1.894 Ha
Luasan itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan hutan mangrove terluas di dunia. Menyusul Brasil di posisi kedua dengan 1,3 juta Ha, lalu diikuti Nigeria (1,1 juta Ha), Australia (0,97 juta Ha), dan Bangladesh (0,2 juta Ha).
Baca Juga: Jelang Puncak Presidensi G20 Indonesia, Menko Luhut: Kita Semua Harus Kompak
Secara ekonomi, ekosistem mangrove pun menyimpan potensi besar. Bagi masyarakat di sekitar, mangrove dapat diolah menjadi ragam hiasan atau kerajinan. Adapun bagi pemerintah, pengembangan ekosistem mangrove dapat menjadi tambahan pendapatan negara lewat perdagangan karbon. Saat ini, harga jual karbon dunia berkisar US$5-10 per ton CO2.
Maka dengan luas hutan bakau mencapai sekitar 3 juta hektare yang mampu menyerap emisi karbon sekitar 950 ton, pemerintah bisa mendapat tambahan hampir Rp2.400 triliun dari perdagangan karbon. Pendapatan negara bisa lebih tebal jika menghitung perdagangan karbon dari hutan tropis dan lahan gambut.
Editor: Redaktur TVRINews
