Penulis: Ridha Gemelli Sitompul
TVRINews, Sydney
Untuk pertama kalinya Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama KBRI Canberra, KJRI Sydney, IIPC Sydney, dan Australia-Indonesia Business Council (AIBC) berpartisipasi pada gelaran International Mining and Resources Conference & Expo (IMARC).
Baca Juga: Suguhan Bagi Delegasi KTT G20, Ragam Karya Seni Hadir di Bandara Ngurah Rai Bali
Gelaran tersebut diselenggarakan di International Convention Centre (ICC), Sydney, Australia, pada 2 hingga 4 November 2022.
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan, menggarisbawahi bahwa IMARC merupakan salah satu event strategis untuk menyampaikan berbagai perbaikan kebijakan investasi yang telah dilakukan, termasuk adanya Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) sejak November 2020 dan implementasinya berupa percepatan perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko di Kementerian Investasi/BKPM.
“Partisipasi Kementerian Investasi/BKPM dalam IMARC adalah untuk menyampaikan informasi reformasi kebijakan, khususnya dalam hal layanan perizinan berusaha melalui sistem OSS yang lebih cepat dan mudah, serta mempromosikan potensi industri pertambangan, tidak hanya industri hulu namun juga pengembangan industri hilir yang saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia dalam rangka menciptakan nilai tambah melalui beberapa proyek investasi yang siap ditawarkan,” kata Indra dalam rilisnya, Senin (7/11/2022).
Partisipasi Indonesia dalam gelaran IMARC ini diawali dengan pendirian booth seluas 6mx3m yang dimanfaatkan Kementerian Investasi/BKPM untuk mempromosikan peluang investasi di Indonesia dalam 5 proyek pengolahan hasil pertambangan, termasuk aluminium dan nikel. PT Dahana, salah satu BUMN Indonesia yang juga bergabung dalam booth pameran, turut menyediakan informasi terkait dengan potensi perusahaan dalam sektor jasa pertambangan.
Booth pameran delegasi Indonesia diresmikan melalui prosesi pengguntingan pita oleh Duta Besar Republik Indonesia di Canberra Siswo Pramono; Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan; Konsul Jenderal RI di Sydney Vedi Kurnia Buana.
Kemudian, Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi/BKPM Saribua Siahaan; Kepala Indonesian Investment Promotion Centre (IIPC) Sydney Haryo Yudho Sedewo; serta Chair – Minerals, Energy and Industry AIBC Geoffrey Gold.
Sebagai side event partisipasi pada IMARC, Kementerian Investasi/BKPM menyelenggarakan kegiatan “Luncheon: Fostering Indonesia-Australia Investment in Mining, Resources, and Downstream Industries” yang dihadiri oleh 20 orang peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah dan pelaku usaha bidang pertambangan dan keuangan dari Indonesia dan Australia.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan investasi antara kedua negara dalam sektor pertambangan.
Selanjutnya, Duta Besar Siswo Pramono dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, bahwa pertemuan tersebut dapat menjadi momentum untuk mewujudkan berbagai potensi kerja sama sektor pertambangan antara kedua negara.
“Saya gembira melihat bagaimana pelaku usaha Australia telah menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengembangkan industri kritikal baru di Indonesia. Dengan implementasi IA-CEPA, UU Cipta Kerja, serta upaya hilirisasi, berbagai peluang kerja sama terbuka lebar,” kata Dubes Siswo.
Dalam kegiatan luncheon tersebut, Konjen RI Sydney Vedi Kurnia Buana juga menyampaikan kesiapan Pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi para investor dari kedua negara.
“Pertambangan merupakan salah satu sektor investasi antara Indonesia dan Australia. KBRI, KJRI, dan IIPC Sydney akan siap sedia untuk memberikan asistensi kepada pelaku bisnis dalam merealisasikan investasi dua arah di Indonesia dan Australia,” kata Konjen Vedi Buana.
Baca Juga: Pimpin Apel G20, Panglima Andika: Besok Sudah Berada di Posisi Masing-Masing!
Di antara peserta pada kegiatan luncheon, hadir pula MACH Energy Australia, EMR Capital, dan Merdeka Copper and Gold. Kehadiran ketiga perusahaan besar tersebut merupakan bukti keberhasilan kerja sama investasi sektor pertambangan antar kedua negara.
Editor: Redaktur TVRINews
